Jumat, 08 Maret 2013

Asal usul Nama Salatiga

Pada masa wali songo. Hiduplah seorang adipati yang kaya raya namun juga terkenal karena sifat kikirnya. Adipati Pandanarang II namanya, beliau menjadi adipati di semarang. isteri adipati Pandanarang II juga memiliki sifat yang sama yaitu sangat cinta dengan harta duniawi.

Kabar ini pun terdengar oleh sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merasa bahwa adipati Pandanarang masih memmiliki kebaikan dalam dirinya. Sehingga tidak perlu dihukum tapi disadarkan.

Esok harinya, pagi-pagi sekali. Snan Kalijaga menyamar sebagai seorang tukang rumput. Beliau membawa rumput yang bagus dan masih segar. Tatkala lewat di halaman Kabupaten, Adipati Pandanarang II menawar harga rumput dengan harga yang sangat rendah.


Penjual rumput itu pun setuju dan meletakkan rumputnya di kandang. Sebelum pergi, ia menyelipkan uang lima sen di dalam rerumputan. Uang tersebut ditemukan oleh abdi dalem Pandanarang II dan segera diberitahukan pada Adipati Pandanarang II. Kejadian ini terus berulang berkali kali.

Pandanarang II pun terheran -heran mengapa tukang rumput itu, tidak pernah menanyakan uangnya yang tertinggal. Ketika tukang rumput itu kembali esoknya, Pandanarang II menanyakan asal usul tukang rumput tsb. Dia juga menanyakan mengapa ia seolah - olah tidak butuh dengan uang.
Tukang rumput itu menjawab bahwa ia bisa mendapatkan emas dengan sekali mencangkul. Sontak saja Adipati Pandanarang marah mendengar hal itu. Ia lalu meyuruh seorang abdinya untuk mengambilkan cangkul. Tidak berapa lama, sang abdi dalem pun memberikan cangkul kepada tukag rumput yang tak lain adalah sunan Kalijaga. Dengan sangat mantap, tukang rumput tadi mngayunkan cangkul tersebut hingga tanahnya terangkat, seketika juga, tanah hasil cangkulan tersebut berubah menjadi emas.

Sang Adipati berikut para abdi dalemnya terdiam.. seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya tersebut.. dan pada akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan jati dirinya pada adipati, supaya adipati tersebut tidak terheran-heran.

Sang Adipati meminta maaf dan memohon supaya Sunan Kalijaga berkenan menerimanya sebagai murid. Sunan Kalijaga pun menyetujuinya, dengan syarat yaitu adipati Pandanarang mau melepaskan sifat terlalu cintanya pada harta dan memberikan hartanya pada rakyat fakir miskin.
Pandanarang pun bersedia melakukannya. Isterinya(Nyai Pandanarang) juga turut menemaninya.
Namun, sang isteri masih juga belum bisa menghilangkan rasa cintanya pada harta. Secara diam-diam, tanpa sepengetahuan suaminya. Perempuan iti memasukkan emas dan permata ke dalam teken (tongkat) yang terbuat dari bambu.
Karena tongkatnya yang terlalu berat, sang isteri pun tertinggal. Dia pun menyuruh suaminya supaya berangkat lebih dulu agar bisa menyusul sunan Kalijaga. Adipati Pandanarang akhirnya bisa menyusul Sunan Kalijaga. Mereka berdua(Sunan Kalijaga dan adipati Pandanarang) menempuh perjalanan bersama.

Di tengah perjalanan, mereka dihadang oleh 3 orang perampok. Perampok itu tidak menyadari kalau orang di depannya adalah Sunan Kalijaga.
“Kalau kalian menginginkan barang yang berharga, tunggulah disini. Nanti akan lewat seorang wanita tua.  Kalian akan mendapati emas permata yang ada di dalam tongkat bambu,” kata Sunan Kalijaga.
Karena melihat mereka tidak membawa apa-apa, maka perampok tersebut membiarkan sang Sunan dan muridnya untuk lewat.
Kemudian, sampailah Nyai Pandanarang di tempat tersebut. Terlihat beliau sangat lelah, karena tongkat yang di banya sangatlah berat. Ketiga perampok tadi menghadang perempuan itu, dan mengambil tongkat bambu yang ia pegang itu. Nyai Pandanarang terpaksa harus merelakan harta emas permata yang dibawanya jauh-jauh ternyata diambil oleh perampok tadi.

Pada saat Nyai Pandanarang berhasil menyusul suaminya dan Sunan Kalijaga, dia menceritakan kejadian perampokan tadi sembari menangis.
"Untuk berguru kepadaku, kalian harus bisa meninggalkan harta duniawi. Kejadian itu merupakan kesalahanmu sendiri,” ucap Sunan Kalijaga.
Untuk mengingat kejadian itu, Sunan Kalijaga memberi nama daerah tersebut “Salah Tiga”. Karena jumlah perampok tadi ada 3 orang. *
Lama kelamaan nama salah tiga berubah menjadi Salatiga.

*Versi lain mengatakan dinamakan salah tiga karena ada tiga orang yang telah berbuat salah, yaitu Adipati Pandanarang, Nyai Pandanarang, dan perampok.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar