Jumat, 22 Februari 2013

Sejarah Kota Probolinggo

Seperti biasanya gan, kali ini saya akan memulai sejarah kota probolinggo ini dari asal mula nama probolinggo itu sendiri.

Asal Mula Nama Probolinggo

Cerita ini bermula dari era keemasan kerajaan Majapahit yaitu saat pemerintahan raja Hayam Wuruk (1350-1389). Saat itu, ada sebuah daerah yang bernama “Banger”. Kata Banger sendiri dalam bahasa jawa berarti bau

Nama "Banger" juga disebutkan di buku Negarakertagama karya Mpu Prapanca.
Pada awalnya, Banger merupakan pedukuhan kecil yang terletak di muara kali Banger, dan akhirnya berkembang manjadi Pakuwon, di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Tatkala Bre Wirabumi atau yang biasa kita sebut dengan nama "Minakjinggo" berkuasa. Daerah banger sering menjadi arena pertempuran antara kerajaan Blambangan yang dipimpin oleh Bre Wirabumi  dengan Prabu
Wikramawardhana dari kerajaan Majapahit. Perang ini dikenal sebagai "Perang Paregreg” (InsyaALLAH tentang perang Paregreg akan saya tuliskan pada artikel selanjutnya).

Masa Pemerintahan VOC

Pakuwon Banger kembali mencatatkan namanya dalam sejarah saat VOC berhasil mengalahkan Mataram.
Berdasarkan perjanjian yang dibuat antara VOC dan Mataram .Perjanjian ini hanyalah perjanjian yang berat sebelah, dan dipaksakan oleh VOC karena mereka memenangkan pertempuran. Pakuwon Banger termasuk dalam daerah yang harus diserahkan kepada VOC. Hal tersebut terjadi pada tahun 1743

Kyai Djojolelono diangkat sebagai bupati pertama saat pemerintahan VOC. Bupati Banger mendapatkan dengan gelar "Tumenggung". Lokasi kabupatennya sendiri terletak di Desa Kebonsari Kulon. Kyai Djojolelono merupakan putera dari Kyai Boen Djolodrijo /Kiem Boen seorang Patih Pasuruan.
Patih dari Bupati Pasuruan yaitu Tumenggung Wironagoro (mungkin sobat lebih kenal dengan nama Untung Suropati).
Kyai Djojolelono pun dipengaruhi oleh VOC, diadu domba untuk menangkap Panembahan Semeru dalam keadaan hidup atau mati. Akhirnya Kyai Djololelono berhasil membunuh Panembahan Semeru.
Namun, setelah melakukan hal tersebut, Kyai Djojolelono justru menjadi seseorang yang sangat menentang VOC. Tidak ingin dipengaruhi lagi oleh Kompeni/VOC, Kyai Djojolelono kemudian meninggalkan istana dan jabatan Bupati Banger untuk mengembara (lelono).

Politik Adu Domba VOC
VOC kemudian menunjuk Raden Tumenggung Djojonegoro, sebagai Bupati Banger yang ke-2.
 Pada masa jabatannya, istana kabupaten dipindahkan ke Benteng Lama. Termakan hasutan VOC, Kyai Djojolelono berhasil ditangkap oleh Tumenggung Djojonegoro.
Setelah wafat, Kyai Djojolelono kemudian dimakamkan di pemakaman “Sentono”, masyarakat sekitar menganggap makam ini sebagai tempat yang keramat.

Masa Tenang
Pada masa jabatan Tumenggung Djojonegoro, daerah Banger semakin makmur. Pada masa pemerintahan beliau juga, didirikan Masjid Jami. Karena disenangi masyarakat, beliau mendapatkan sebutan “Kanjeng Djimat”.

Banger berganti nama
Pada tahun 1770 nama "Banger" diubah menjadi “Probolinggo” (Probo : sinar, linggo : tugu, badan, tanda peringatan, tongkat). Setelah wafat, Kanjeng Djimat dimakamkan di pemakaman belakang Masjid Jami.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar